REFLEKSI (III) PERKULIAHAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Pada perkuliahan kali ini (Rabu, 31 Oktober 2012), Dr. Marsigit membahas seputar pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak para mahasiswa.
Ø Yulia
Linguistika: Filsafat ditulis dalam keadaan jernih. Saat hal yang kontradiktif
terjadi dalam pikiran atau hati manusia, bolehkah seseorang berfilsafat?
Ada dua hukum di dunia ini. Hukum identitas dan
hukum kontradiktif. Hukum identitas adalah jika dengan tidak memperhatikan ruang dan waktu. Maka
2 sama dengan 2 jika dia masih dalam pikiran, akan berbeda jika dituliskan
apalagi dibicarakan. Jikalau memperhatikan ruang dan waktu maka hukum identitas
tidak akan tercapai. Rumus dari hukum identitas adalah subjek = predikat. Dan itu
tidak akan terjadi kepada manusia. Yang benar-benar subjek = predikat adalah
Tuhan. Maka sebenar-benar hidup ini yang terikat ruang dan waktu adalah
kontradiksi. Nama kita tidak akan menunjukkan diri kita jika terikat ruang dan
waktu. Maka dapat dikatakan kita tidak akan pernah memahami diri kita sendiri.
Kemudian hukum identitas disebut sebagai analitik, ilmu
yang bersifat analitik. Ilmu yang bersifat analitik itu adalah matematika yang
letaknya dalam pikiran. Oleh karena itu dalam logika berpikir matematika sifat
pengetahuannya adalah analitik. Maka nilai kebenarnnya ditentukan oleh apakah
dia konsisten atau tidak. Terserah bagaimana perjanjiannya dengan semuanya
diandaikan. Di samping bersifat analitik, berpikir itu bersifat apriori.
Apriori itu memikirkan atau merencanakan yang akan dilakukan.
Sedangkan kontradiksi bersifat sintetik. Yang ada di
dunia ini, dunia pengalaman, dunia ruang dan waktu, hukumnya kontradiktif,
nilai kebenarnnya bersifat korespondensi. Ditambah dunia pengalaman itu bersifat
aposteriori. Jadi dapat dikatakan berfilsafat itu sendiri sebenarnya berkontradiksi
dengan fikiran.
Lalu apakah hubungannya dengan hati?
Hubungan fikiran dan hati adalah epoche (tempat
sesuatu yang tidak kita pikirkan). Contoh: dalam matematika misalnya ketika
kita bicara suatu segitiga. Dalam segitiga yang kita pikirkan hanya bentuknya.
Warna, bau dll itu ditaruh dalam epoche.
Ketika kita berdoa maka kita perlu lupa apa yang
tidak terkait dengan doa. Godaan setan mengenai apa yang masih ada di pikiran
ditaruh di kotak epoche. Kita kelola hati kita untuk intensitas doa. Begitu juga
saat berfilsafat.
Ø Kholida
Agustin: Kapan dikatakan seseorang telah menguasai filsafat? Ketika seorang
guru mengajarkan A padahal siswa ingin belajar B, bagaimanakah filsafatnya?
Tiada seorang filsuf pun yang mengaku dirinya
filsuf. Plato pun tidak mengaku bahwa dia seorang filsuf, dia hanya berkarya.
Orang lain yang menganggapnya sebagai seorang filsuf. Barang siapa mengaku dia
seorang filsuf, maka sebenar-benarnya, dia bukanlah filsuf. Maka tidak ada
seorangpun yang menguasai filsafat. Yang ada adalah berusaha mempelajari
filsafat.
Ketika guru dan siswa memiliki keinginan dan
kepentingan yang berbeda dalam pembelajaran, filsafatnya adalah terjemah dan
terjemahkan (Hermeneutika). Dapat dikatakan bahwa belajar yang paling alami
adalah silaturahim. Fungsi guru adalah menyediakan alat, sarana dan fasilitas
sehingga anak bisa belajar secara optimal, sehingga siswa dapat bersilaturahim
dengan mata pelajaran terkait.
Ø Umi
Baroroh: Apakah semua ilmuan dahulu mempelajari filsafat?
Bedakan filsuf, filsuf ilmuwan dan
ilmuwan filsuf. Immanuel Kant itu seorang filsuf, tetapi juga seorang
matematikawan. Phytagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf. Terdapat
juga matematikawan murni misal Fermat tetapi ada yang filsafat murni juga.
Ø Nidya
Ferry W: Bagaimana dan apa contoh romantisme?
Romantisme itu bahwa yang benar adalah yang
romantis, yang ada adalah yang romantis. Maka kehidupan ini sendiri dipandang
sebagai sesuatu yang romantis. Unsurnya adalah keindahan dan percintaan. Jika
dilihat dari sudut pandang romantisme, Perang Teluk merupakan percintaan antara
Jorge Bush dan Saddam Husain dengan segala keindahan teknik peperangannya.
Tetapi ada unsur lain pula yaitu unsur kuasa. Maka
dapat dikatakan bahwa yang paling tampan adalah yang paling berkuasa. Yang
paling romantis adalah yang paling berkuasa.
Ø Wahyu
Kurniawan: Apakah benar filsafat yang pertama adalah filsafat alam?
Munculnya filsafat pertama karena
adanya obyek yang menarik di luar diri manusia misal gunung, hewan, air, dll (terbuat
dari apa, digunakan untuk apa, dll).
Obyek pertama dari filsafat adalah alam sehingga disebut filsafat alam.
Ø Syahlan
Romadon: Bagaimana kita bisa mengenali tokoh dan filsafatnya?
Baca dan baca.
Ø Rina
Yuliana: Apakah seorang filsuf pernah merasakan bosan?
Filsuf
juga manusia, maka ketika pikiran buntu dan lelah, filsuf pun bisa merasakan
bosan. Cara-cara menghindari kebosanan adalah variasi kegiatan atau berhenti
sejenak dalam berpikir.
Ø
Latif K:
Apa itu introspeksi dan mengapa jadi tingkatan tertinggi dalam filsafat?
Introspeksi itu di ranah ilmu jiwa.
Dalam filsafat kita kenal dengan refleksi. Refleksi paling tinggi karena di dalamnya
terdapat judgement. Hakikat berpikir menurut Immanuel Kant yang paling tinggi
adalah judgement.
Ø Seto
Marsudi: Dalam elegi “menggapai wayang golek”, bapak menjelaskan tentang
hakikat wayang golek, bagaimana dengan hakikat wayang lain?
Wayang adalah bayangan dengan
megandung banyak unsur (estetika, filsafat dan ilmu). Intisari dari pewayangan adalah
memperoleh kebaikan dan menghindari keburukan. Dalam pewayangan terdapat tokoh
(dalam filsafat yang ada dan mungkin ada) yang mengkhususkan bentuk-bentuk manusia
dengan berbagai sifat-sifatnya. Pewayangan juga merupakan usaha untuk
memperbincangkan tokoh-tokoh manusia. Memperbincangkan apa yang ada dan yang
mungkin ada. Pewayangan juga biasanya mengajarkan nilai tatakrama dan pusat-pusat
kerajaan dan kekuasaan. Jadi tidaklah hanya dikhususkan untuk wayang golek.
Ø Dwi
Istanto: Bagaimana kita memilih filsafat mana yang paling cocok?
Begitu orang masuk filsafat maka dia tidak dapat
memilih (dalam konteks yang akan dijelaskan berikut) karena dapat dikatakan
filsafat itu cair, bahkan lebih dari itu, filsafat memiliki sifat seperti
udara, dia secepat suara, dia secepat kilat dan cahaya.
Jika dikatakan filsafat itu seperti
zat cair yang terhubung, begitu pula dengan filsafat. Filsafat seseorang akan
selalu memiliki hubungan dengan yang lain. Seseorang tidak bisa hanya belajar
filsafat dari seorang filsuf saja, namun dia belajar filsafat lain yang
berhubungan.
Ø Abidin
Aji Purwanto: Apakah tokoh-tokoh yang lain juga mempelajari ilmu lain?
Ya, karena ilmu lain itu adalah referensinya.
Ø AbsariNur
Khasanah: Mengapa makna begawat itu banyak? Apakah makna sebenarnya dari
begawat?
Apalah arti sebuah nama karena yang penting adalah makna
di baliknya. Saat embaca elegi, kita bisa mengganti makna Begawat dengan apa
yang kita pahami.
Apalah arti nama kita karena yang
penting adalah makna yang terkandung di dalamnya, bagaimana kita berkarya.
Ketika kita berfikir tentang makna nama kita, bahkan kita tidak akan pernah
selesai mendefinisikan diri kita.
Ø Maria
Rosari Anggun Mursitorini: Bagaimana cara merasionalkan pikiran jika pikiran
kita berbeda dengan orang lain?
Itu namanya sintesis. Tesis adalah
yang ada dan yang mungkin ada. Ambil satu tesis, misal A, maka antitesisnya adalah
selain A. Maka kita bisa mendefinisikan segalanya menggunakan tesis dan
antitesis. Jadi sangat enteng dalam filsafat jika ada perbedaan pikiran.
Jikalau memang terjadi demikian, perbedaan tersebut dapat didialogkan.
Ø Septiana
Maulina Swari: Bagaimana cara mengetahui kemampuan otak kita berkembang dan mengalami peningkatan?
Kita dapat mengetahuinya melalui
refleksi. Dengan refleksi kita tahu kemampuan otak kita. MengADAkan yang
MUNGKIN ADA adalah potensi otak/pikiran yang juga diperoleh melalui refleksi.
Semoga
jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa bermanfaat.Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini.
Komentar
Posting Komentar