Refleksi (IV) Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika "MENEMBUS RUANG DAN WAKTU"



Dalam berfilsafat, banyak hal yang harus diperhatikan antara lain pendapat para filsuf, sejarah filsafat, pengalaman-pengalaman yang ada (termasuk pengalaman berfikir dan pengalaman membaca). Dalam berfilsafat kita juga perlu tahu istilah menembus ruang dan waktu. 
Prof. Marsigit pada perkuliahan tanggal 7 November menyampaikan bagaimana kita bisa dikatakan menembus ruang dan waktu, bagaimana metodenya dan apa saja bekal yang harus dipersiapkan agar kita bisa menembus ruang dan waktu dengan aman.
Siapapun manusia secara sadar atau tidak sadar, bahkan tumbuhan ataupun batu dapat menembus ruang dan waktu.  Menembus ruang dan waktu bisa dilakukan dengan mudah tapi juga bisa sulit. Kita yang tertidur dapat dikatakan menembus ruang dan waktu dengan mudah karena tak secara sadar bahwa ruang dan waktu telah berubah. Batu dapat dikatakan menembus ruang dan waktu dengan sulitnya karena batu mengalami masa lampau sampai sekarang dengan harus mengalami pergantian musim yang begitu hebat. Kesempatan yang ada juga dikatakan menembus ruang dan waktu karena waktu yang kita pergunakan sekarang dengan waktu yang akan datang sudah berbeda ruang dan waktunya.
Lalu bekal apakah yang harus dipersiapkan agar seseorang dapat menembus ruang dan waktu secara aman?
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu faham akan ruang dan waktu, memahami tentang adanya filsafat fenomenologi, serta memahami tentang filsafat fondasionalism dan atitesisnya yaitu antifondasionalism.
Hal yang pertama, memahami ruang dan waktu. Ruang berdimensi secara umum dapat dikatakan ruang berdimensi satu, dua, tiga, dst. Tetapi kita punya ruang yang lain baik secara horizontal atau vertikal.
Manusia dapat dikatakan manusia berdimensi nol atau tak hingga jika ditelaah secara kaum spiritualis karena dapat dikatakan spiritual tertinggi berarti kita bisa menjadi pribadi terbaik bahkan seperti nabi, tetapi tingkat spiritual paling rendah (nol) adalah ketika manusia tidak percaya akan adanya Tuhan.
Contoh lain adanya ruang dan waktu adalah munculnya pertanyaan “mengapa kita harus solat atau berdoa berkali-berkali? Mengapa kita tidak solat sekali saja seumur hidup kita?”. Jawabannya karena solat kita yang kemarin, doa kita yang kemarin akan berbeda esensi dengan hari ini. Kekhusyukan solat kita yang tadi akan berbeda dengan solat kita saat ini.
Selanjutnya mengenai fenomenologi. Tokoh dari fenomenologi adalah Husserr. Isi pokok dari fenomenologi adalah adanya abstraksi dan idealita. Sebenar-benar manusia itu abstraksi karena hanya dapat melihat satu atau beberapa titik saja dan tidak dapat melihat keseluruhannya. Karena sebenar-benar manusia hanya bisa memikirkan sesuatu dan melupakan yang lain. Karena sebenar-benar manusia tidak bisa mengatakan semua kalimat yang  ia pikirkan secara serempak. Karena sebagai manusia, kita hanya bisa melihat apa yang ada di depan mata kita, dan tidak pernah bisa melihat apa yang ada di belakang mata kita. Karena hanya ada satu ibu di dunia ini yang mengandung kita. Lalu bagaimana dengan pikiran, perkataan dan ibu-ibu lain yang tidak perlu kita ingat atau tidak kita butuhkan saat ini?
Orang-orang awam akan dengan mudahnya mengatakan, “Ya Lupakan saja”. Namun berbeda dengan Husser. Husser merumuskan sebuah tempat bernama “rumah epoche” sebagai tempat menyimpan apa-apa yang tidak kita pikirkan saat ini.
Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa formalismnya ilmu itu ilmu pengetahuan, normatifnya logos atau filsafat dan spiritualnya ciptaan-ciptaan yang ada. Kita bisa mengatakan demikian melalui abstraksi dan idealita.
Hal yang ketiga adalah foundasionalism dan antifondasionalism(intuisi dengan tokohnya Brouer).
Semua umat beragama pastilah kaum fondasionalism karena meyakini bahwa Tuhan sebagai Causa Prima (inilah fondamennya orang beragama). Orang yang menikah merupakan kaum fondasionalism dengan fondamennya ijab kabul. Maka semua “pure matmaticians” merupakan kaum fondasionalis karena berangkat dari menetapkan definisi, teorema, dll. Pure matematicians harus memotong itu semua untuk memulai. Jika kita tahu kapan kita memulai maka pastilah itu fondasionalism. Sebaliknya, di mana kita tidak tahu kapan dimulainya, maka itulah intuisi. Contoh: kapan kita mulai tahu apa itu besar dan kecil, kapan kita tahu sebentar, kapan kita tahu arti sayang dan cinta. Itu semua adalah intuisi. Besar dan kecil merupakan intuisi ruang, sebentar dan lama merupakan intuisi waktu.
Maka hidup ini merupakan kontradiksi karena kitasendiri lah fondasionalism sekaligus antifondasionalism. Ketika dihubungkan dengan pendidikan matematika, dapat dikatakan bahwa pendidikan matematika menjadi momok bagi siswa di sekolah karena siswa telah terampas intuisinya. Jadi, dalam belajar matematika, siswa tidak boleh langsung dicokol dengan definisi, tetapi biarkanlah anak mengembangkan intuisinya terlebih dahulu.

Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA PEMBELAJARAN PECAHAN DI SMP

KEGIATAN PENELITIAN SEBAGI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA

MATHEMATICS TEACHING ACROSS MULTICULTURAL CONTEXT