(Refleksi Perkuliahan V) Keseimbangan Pikiran dan Hati, antara Material dan Spiritual



Pada pertemuan kali ini, Prof. Marsigit memulai perkuliahan dengan membahas persoalan filsafat lalu berkembang kepada masalah hati yang harus selalu menemani pikiran saat berfilsafat. Berikut refleksi perkuliahan yang saya buat. Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan, dapat didownload disini. Bagi yang menginginkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi link yang saya berikan di bawah. Semoga dapat bermanfaat.

Persoalan filsafat yang dihadapi para filsuf sebenarnya dari dulu sampai sekarang itu sama saja, semua filsuf mengalaminya yaitu mengenai olah pikir. Masalah mengenai apa yang patut dan tidak apatut dipikirkan, setelah tahu maka persoalan selajutnya adalah sejauh mana kita bisa memikirkannya serta bagaimana cara atau metode apa yang digunakan.
Namun tidak semua manusia dapat dipaksan untuk memikirkan segala sesuatu berangkat dari hakekat. Seorang anak, anak kecil, belajar bukan dari pemahaman tetapi berangkat dari apa yang disebut mitos. Mitos di sini diartikan sebagai melakukan segala sesuatu tanpa tahu apa maksud atau tujuannya. Mitos ini sejalan dengan intuisi sehingga dapat dikatakan pula bahwa anak kecil belajar menggunakan intuisi (tentang sesuatu yang tidak tahu mulai atau tanpa landasan). Jadi dapat dikatakan, jika dilihat dari produknya itu mitos, tetapi prosesnya itu intuisi. Intuisi tersebut diperoleh dari komunikasi, interaksi dengan lingkungan dan sebagainya sehingga perkembangan intuisi anak itu bergantung pada interasi keluarga, komunikasi yang terjalin tiap hari dan interaksinya dengan lingkungan keluarga.
Kembali pada mitos, terkadang karena terlalu kuatnya mitos di benak manusia, hingga terkadang membuat manusia tidak berani memkirkannya. Kita ambil contoh: “Mitos Laut Selatan”. Terlalu dalamnya mitos ini, sehingga masyarakat sekitar bahkan masyarakat yang berkunjung ke sana pun patuh terhadap aturan yang ada seperti adanya adat-adat yang dilakukan di sana setiap tanggal tertentu dan memakai pakaian selain warna hijau. Mitos-mitos yang ada membuat manusia melakukan sesuatu dengan tidak memikirkan maksud atau bahkan dapat dikatakan untuk memikirkan tujuannya. Saya tidak mengatakan bahwa mitos tersebut atau apa yang dikatakan keliru, namun saya tekankan bahwa saat ini kita membahas mitos yaitu tindakan yang kita tidak tahu maksud dan tujuannya.
Namun, mitos tidak berlaku bagi semua orang. Mitos dapat berubah menjadi ilmu bagi orang-orang yang tahu. Kita ambil contoh: kita punya mangga dimana kita tidak pernah mencicipi buahnya karena selalu dicuri oleh anak-anak tetangga. Kemudian, karena kesal, kita menyebar isu bahwa di pohon mangga tersebut terdapat penunggunya. Orang-orang yang mendengar percaya dan tak berani mencuri mangga lagi. Di sini dapat dikatakan bahwa bagi para tetangga mereka percaya mitos sedangkan bagi kita yang tahu, yang menyebar itu adalah ilmu. Jadi mitos itu dapat dibuat, mitos itu pengetahuan yang diberi motif tertentu.
Permasalahan filsafat baru adalah bagaimana mengembangkan pikiran tanpa meninggalkan hati?
Kita pasti pernah mendengar slogan “Samakan pikiran, hati dan tindakan”. Secara filsafat domain dari  pikiran, hati dan tindakan itu lain. Domain pikiran itu serempak/paralel, sedangkan domain ucapan itu berurutan. Sehingga secara filsafati, slogan tersebut sangatlah sulit dilakukan. Namun secara pragmatis maksud dari slogan tersebut adalah bertindak bijaksana.
Kembali pada mengembangkan pikiran tanpa meninggalkan hati, secara pikiran kita sudah belajar filsafat, lalu secara hati, apakah kita sudah benar-benar percaya pada kepercayaan/agama kita?
Muncul pertanyaan, bagaimana kita bisa percaya pada Nabi padahal beliau-beliau sudah lama meninggal?
Secara pikiran, kita dapat mempercayai mereka dari kitab suci (Al-Qur’an), dari kisah-kisah yang disampaikan oleh  guru/ustadz kita. Lalu bagaimana secara hati?
Secara hati kita bisa mendalami dari kisah-kisah atau hadis yang ada, serta penciptaan yang ada saaat ini. Contoh kisah sahabat yang ingin memandang wajah Rosulullah.  Namun, sejatinya saat itu yang memahami makna memandang wajah Rosul hanyalah Abu Bakar R.A. Beliaulah yang saat itu paling dekat dengan Rosul dan tahu makna memandang wajah Rosul bahkan memikirkannya bukan dengan pikiran, bukan dari apa yang terlihat secara kasat mata tetapi dengan hati.
Karena itu dapat dikatakan aspek dari keyakinan ,tentang sejauh mana kita bisa meyakini, dapat diperoleh dari referensi dan pengalaman.
Kepercayaan itu tak berhenti sampai di situ. Di antara kita mungkin ada yang sering mendengar atau mengucapkan nama Syeikh Abdul Qodir Jailani. Lalu siapakah beliau? Kenapa begitu terkenal?
Beliau merupakan guru spiritual seperti Abu Bakar. Beliau sangat terkenal karena keikhlasannya dalam melakukan sesuatu. Satu cerita, suatu hari, Syeikh Abdul Qodir menemukan apel di sungai. Dia memakan separuh apel tersebut sampai dia sadar bahwa apel tersebut pasti ada yang memiliki. Beliau menyusuri sungai dan menemukan pemilki apel tersebut. Beliau meminta maaf dan ternyata pemilik apel tersebut akan memaafkan jika Syeikh Abdul Qodir bekerja di kebun apelnya selama 10 tahun. Syarat itu pun disanggupi oleh Syeikh Abdul Qodir Jailani dan dilaksanakan dengan penuh ikhlas. Keikhlasan menjalankan hukuman tersebut selama 10 tahun akhirnya berbuah dengan mendapatkan anak pemilik kebun apel tersebut sebagai istri beliau.
Menyeimbangkan hati dan pikiran juga dapat dilakukan melalui i’tikaf. Ingat bahwa spiritual tidak bisa dipahami dengan pikiran. Hal lain yang tidak dapat dipahami dengan pikiran adalah apa yang disebut Immanuel Kant sebagai Noumena. Noumena dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa dipikirkan, hanya merupakan ilmu titen). Secara ontologi, hal ini dapat dijelaskan bahwa kita memilki ciri-ciri akan jadi apa kita nanti.  
Jadi dari perkuliahan ini, saya tahu bahwa tidak semua mitos itu salah, bahkan mitos sejalan dengan intuisi. Tetapi jangan artikan untuk mengembangkan intuisi bermatematika, kita mengembangkan mitos di matematika. Dan juga pemikiran-pemikiran yang sudah kita kembangkan jangan lupa untuk diimbangi dengan hati kita.
Trimakasih. Berikut saya berikan alamat yang dapat dikunjungi jika ingin belajar secara lebih lengkap:
1. Noumena
2. Memandang wajah Rosulullah

Komentar

  1. saya baru tersadar, ternyata cara ini bisa membuat kita menjadi ingat dengan pelajaran mata kuliah di kampus. Dengan menuliskannya kembali ke blog website kita. terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA PEMBELAJARAN PECAHAN DI SMP

KEGIATAN PENELITIAN SEBAGI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA

MATHEMATICS TEACHING ACROSS MULTICULTURAL CONTEXT