Refleksi Pertemuan II (Filsafat Pendidikan Matematika) KEBINGUNGAN DALAM BERFILSAFAT
Pada
pertemuan perkuliahan kedua ini, Dr. Marsigit membicarakan pertanyaan-pertanyaan
yang muncul di benak mahasiswa. Beberapa pertanyaan didiskusikan dan diharapkan
dapat menjadi pemikiran yang refleksif di benak mahasiswa.
=====================
Ø Ketika
kita bingung saat membicarakan filsafat, kita bertanya mengenai apakah tujuan
filsafat sebenarnya. Lalu apakah filsafat bertujuan untuk membuat orang bingung
dengan pemikirannya sendiri ataupun pemikiran orang lain?
Filsafat
bukanlah bertujuan membuat orang lain bingung. Filsafat memberikan pencerahan,
memberikan penjelasan kepada orang lain. Hanya saja ketika kita merasa bingung,
itu dikarenakan kita masih dalam proses belajar, masih mengembarakan pikiran
untuk mencari filsafat kita. Apa yang kita pikirkan ada di pikiran dan di luar
pikiran kita. Jika yang dipikirkan ada di luar pikiran kita, permasalahan yang
muncul adalah bagaimana kita mengetahuinya. Jika yang dipikirkan ada di dalam
pikiran kita, maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menjelaskan
pemikiran kita kepada orang lain. Tetapi kita tidak pernah bisa
sebenar-benarnya menjelaskan sesuatu. Kenyataan yang ada hanyalah berusaha
menjelaskan.
Kalaulah
kita bingung, itu dikarenakan kita terbiasa dengan kepastian dan kepastian
adalah musuh filsafat. Urusan dunia yang menggunakan kepastian adalah musush
filasafat, karena filasafat menggunakan pikiran yang bersifat fleksibel.
Filsafat tidak hanya berbicara mengenai substansi tapi juga wadahnya. Namun,
ketika kita betul-betul bingung, maka STOP dalam berpikir dan kembali pada
Tuhan/ kembali mengingat Tuhan. Karena mengembarakan pikiran terlalu jauh harus
selalu diringi dengan doa agar tidak salah jalan. Lalu apaka yang mengarahkan
pada filsafat yang salah? Ketika kita berfikir bahwa semua ada alasan, semua
ada penjelasan, semua bisa dipikirkan, maka kita akan terlampau jauh jika tidak
disertai dengan hati kita di sana.
Ø Hidup
yang ada terdiri dari dua bagian. Logika sebagai tataran atas dan pengalaman
sebagai tataran bawah. Lalu apakah kedua bagian ini selalu berjalan bersamaan? Apakah
ada berpikir yang tidak menggunakan pengalaman?
Ada,
sebagai contoh. Kenapa kita takut digigit singa? Pada kenyataannya kita belum
pernah merasakan digigit singa. Alasan yang mendasari adalah pemikiran kita,
yang berpikir bahwa digigit singa akan menjadi bencana yang mungkin akan
menghilangkan nyawa.
Ø Apakah
ada pengalaman yang tidak menggunakan proses berpikir?
Ada,
sebagai contoh ketika kita mengajak kucing kita jalan-jalan dan memberikan
pengalaman yang ditemui di jalan. Maka kita tidak akan pernah tahu, kemana
pikiran kucing tersebut pergi. Dan masih banyak contoh lain. Bahkan banyak
manusia yang tidak memikirkan pengalamannya.
Ø Bagaimanakah
cara berfilsafat yang baik dan benar?
Ketika
pertanyaan lain muncul mengenai tata cara berfilsafat yang baik dan benar,
dapat dikatakan bahwa cara paling bagus dalam berfilsafat adalah berinteraksi
atau terjemah dan menterjemahkan pemikiran orang lain yang berguna membangun
filsafat kita sendiri. Tidak ada seorang
filsuf pun yang tidak terpengaruh orang lain karena hidup kita tidak
terisolasi. Ketika kita mau berusaha untuk mengidentifikasi sesuatu, maka kita
akan tahu itu membangun atau merusak. Sama halnya dalam berfilsafat, ketika kita
mau berfikir kita akan tahu ide-ide yang muncul akan membangun ataukah merusak
pemikiran kita.
Proses
berfikir sebenarnya merupakan proses mencari keseimbangan dan untuk mengimbanginya
kita pun tidak boleh terlepas dari doa-doa kita terhadap Tuhan. Karena
berfilsafat merupakan pola pikir manusia yang refleksif, maka dapat dikatakan
hanya seseorang yang mau berfikirlah yang dapat mempelajari filsafat. Bagaikan
aliran sungai, filsafat itu semakin ke hulu semakin jernih (semakin universal)
dan semakin ke hilir semakin kontekstual (seperti pelaksanaan norma dalam
kehidupan seseorang dengan seseorang yang lain). Pemikiran kita memang akan
dipengaruhi oleh pemikiran orang lain. Namun, filsafat kita adalah filsafat
hasil dari originalitas pemikiran kita (akibat pencarian pure reason). Yang
pasti, agar kita dapat memulai berfilsafat yang baik dan benar, kita harus
menaati norma-norma yang telah disepakati.
Ø Lalu
apakah yang sebenarnya diungkapkan oleh filsafat?
Kembali pada objek
filsafat yaitu yang ada dan yang mungkin ada (yang letaknya di dalam pikiran
baik itu berfikir biasa ataupun metakognisi). Hidup ini setiap saat merupakan
proses mengubah yang mungkin menjadi ada. Yang ADA itu “sekarang dan yang
lampau”. Yang besok adalah “MUNGKIN ADA”.
Filsafat matematika
adalah mempelajari yang ada yang mungkin ada di dalam matematika. Filsafat
Pendidikan Matematika berarti filsafat yang mempelajari yang ada dan yang
mungkin ada di lingkup Pendidikan matematika. Yang ada itu ruang kelas, guru,
siswa, teori Vigotsky. Ketika ada sesuatu yang belum kita tahu dalam pendidikan
Matematika, maka disebut mungkin ada.
Ø Apakah
dalam berfilsafat boleh melibatkan tokoh?
Dapat
dikatakan bahwa tiadalah berfilsafat kalau tidak ada tokoh. Refleksi yang
diperoleh dari orang lain merupakan pemikiran yang berkembang dari pemikiran
yang sudah ada. Maka dapat dikatakan bahwa filsafat itu berulang-ulang dan
berkembang.
Ø Bagaimana
mengembangkan pola pikir dalam berfilsafat?
Dalam
mengembangkan pola pikir kita menggunakan metode hidup (bumi=selalu berubah
tetapi seimbang). Hidup kita pun akan selalu berubah, tapi tiadalah itu hidup
jika tanpa pikiran.
============
Percakapan
dengan seorang religious ( R ) dengan seorang filsuf (F):
R:
“Aku melihat banyak orang berlalu lalang di depanku. Namun dapat kukatakan
bahwa sebanyak-banyak orang yang lewat itu sebagain besar dari mereka tidak
lebihnya atau bagaikan mayat yang berjalan.”
F:
“Kenapa?”
R:”Karena
hasil penerawanganku dari kejauhan, ketika mereka sedang sibuk mereka lupa,
tidak ada doa dalam hatinya.
Percakapan
ini dapat diturunkan menjadi percakapan seorang filsuf (F) dan muridnya(M).
F:
“Aku melihat banyak murid berlalu lalang di depanku. Namun dapat kukatakan
bahwa sebanyak-banyak murid yang lewat itu sebagain besar dari mereka tidak
lebihnya atau bagaikan mayat yang berjalan.”
M:
“Kenapa?”
F: ”Karena hasil penerawanganku dari kejauhan ketika
mereka sedang sibuk, mereka lupa, mereka tidak berpikir, tidak memikirkan
pengalamannya.
============
Maka
dapat dikatakan pola pikir dalam berfilsafat adalah ikhtiar yang terus menerus
karena berpikirmu adalah pengalamanmu dan sebaliknya.
Ø Bagaimana
agar bisa adil dalam bertindak seperti yang diungkap pada filsafat?
Ketika
kita bertanya tentang ketidakadilan itu maka kita temukan bahwa dirikulah ketidakadilan
itu. Yang ada di dunia ini hanyalah kita berusaha bersikap adil. Di dunia ini kita mengenal adanya hukum reduksi
dimana Tuhan juga memberlakukannya. Contoh: kelahiran manusia. Apakah kita
diberikan pilihan untuk memilih lahir dari ibu yang mana? Apakah kita diberikan
pilihan lahir di mana? Maka kelahiran itu suatu ketidakadilan jika diliha dari
sudut pandang obyeknya. Tapi apakah kita dapat sebut tidak adil jika dilihat
dari sudut subyeknya yaitu Tuhan? Apakah kita dapat menyebut bahwa Tuhan tidak
adil. Tidak bisa, karena kita tahu bahwa Tuhan adalah satu-satunya zat Yang
Maha Adil.
Ø Kapan
kita bisa yakin bahwa hati kita sudah cukup bersih untuk mulai berfilsafat?
Seperti
pada Adil, kita hanyalah berusaha untuk membuaut hati kita bersih. Konsep awal(memulai)
itu sering diabaikan namun terkadang menentukan segala-galanya. Dalam filsafat,
awal itu merupakan fondasi yang mengembangkan pemikiran-pemikiran selanjutnya.
Ø Jika
seseorang tidak dapat memahami filsafat orang lain apakah wajar dan normal?
Berfilsafat
itu menggunkan referensi yang ada dan yang mungkin ada. Kapan kita dikatakan mulai
berfilsafat? Ketika kita mulai berfikir refleksif. Karena semua pikiran orang
itu adalah filsafatnya maka kita tidak akan bisa memahami semua pemikiran
tersebut yang ada hanyalah berusaha memahami pikiran orang lain. Membangun
pemikiran kita sendiri, membangun filsafat kita sendiri kemudian menjelaskannya
kepada orang lain.
Ø Apakah
parameter benar untuk berfilsafat dikarenakan filsafat itu free thinking?
Bebas
yang sebebas-bebasnya itu adalah suatu kemunafikan. Maka di Indonesia itu itu
diterapkan free yang bertanggung
jawab yang tidak merugikan orang lain. Yang ada dan yang mungkin ada memiliki
nilai kebenaran masing-masing. Namun, nilai benar itu relatif. Kita dapat
mengatakan benarnya matematika jika itu konsisten. Tetapi benarnya pengalaman jika
cocok dengan keadaan dan orang tidak akan pernah bisa mencocokkan dengan
keadaannya. Yang ada kita hanya berusaha menjelaskan keadaan sekarang dengan
merujuk pada masa lalu. Maka tiadalah manusia bisa persis dengan namanya (misal
Kholida. Apakah Kholida yang dimaksud adalah Kholida yang berumur 5 tahun?atau
10 atau 17 tahun?). Hanya Tuhan yang bisa sama dengan nama-nama-Nya. Sehingga
dapat kita katakana, benarnya spirirtual itu bersifat absolute, mutlak.
Ø Apakah
manfaat filsafat?
Ketika
kita berbicara manfaat berfilsafat itu akan sama artinya dengan apa manfaat
berpikir. Sehingga dapat dikatakan pula bahwa orang yang tidak mau belajar
filsafat sama dengan orang yang tidak mau berpikir (mati pikiran). Manfaat filsafat bagi para pelaku di lingkup
pendidikan matematika adalah memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada dalam
Pendidikan Matematika.
Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini. Trimakasih.
Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini. Trimakasih.
Komentar
Posting Komentar