Refleksi Pertemuan I (Filsafat Pendidikan Matematika) ASUMSI DALAM FILSAFAT SERTA DEFINISI FILSAFAT
Filsafat Pendidikan Matematika secara harfiah dapat
dibagi menjadi dua bagian yaitu Filsafat dan Pendidikan Matematika. Pendidikan
Matematika sebaiknya tetap menjadi satu kesatuan, sebaiknya komprehensif, tidak
dipisahkan karena permasalahnnya tidak sederhana memisahkan Pendidikan dengan
Matematika itu sendiri.
Dalam berfilsafat,kita menggunakan bahasa analog,
baik dalam filsafat matematika, filsafat pendidikan matematika, filsafat sains,
filsafat lahir, filsafat hidup, filsafat lahir dan filsafat apapun. Kata
filsafat dapat ditempatkan di depan kata apapun seperti kata dunia (dunia
pendidikan, dunia pekuliahan, dunia kanak-kanak, dunia remaja, dunia KKN-PPL,
dan lain-lain). Bahkan dapat diletakkan di depan kata itu sendiri, misal dunia
dunia begitu pula dengan filsafat dari filsafat. Maka logika elementer kita
(logika orang awam yang paling mudah dimengerti) akan mengkaji terlebih dahulu
mengenai apa itu filsafat sebenarnya.
Dalam berfilsafat kita berasumsi. Asumsi adalah
melihat fakta atau kondisi faktual kita. Di usia penulis saat ini, penulis
masih berusaha keras untuk mencari fakta tersebut, dan juga dalam hal tertentu
aspek kehidupan penulis masih berupa potensi. Oleh karena itu, sebenarnya agak
canggung jika kita belajar filsafat. Karena filsafat itu free, filsafat itu bebas sehingg menghasilkan filsafat yang “free thinking”, tidak dalam keadaan
tertekan oleh hal tertentu.
Sebelum berfilsafat, kita berbicara mengenai
komponen dasar dalam berfilsafat. Walaupun penulis masih berusia 21 tahun, mau
tidak mau penulis sudah dikategorikan sebagai orang dewasa dan orang dewasa itu
berbeda dengan anak-anak, walaupun stratifikasinya(stratifikasi logika
pemikiran) dapat diturunkan dari orang dewasa. Misalnya rasa ingin tahu.
Anak-anak dan orang dewasa sama-sama memiliki rasa ingin tahu, tetapi
perwujudannya akan berbeda (orang dewasa memenuhi rasa ingin tahunya dengan
membaca atau bertanya, tetapi anak-anak memenuhi rasa ingin tahunya dengan
kontak fisik dengan benda terkait, misalnya dipegang atau bahkan dikulum.
Perbedaan lainnya ada pada benda yang ingin diketahui. Anak-anak cenderung
ingin tahu mengenai benda yang nyata misalnya hewan, tumbuhan, sedangkan orang
dewasa tertarik pada benda abstrak misal ingin tahu tentang jiwa, kematian,
dll. Karena sudah dikategorikan sebagai orang dewasa, maka sudah ada kompetensi
bernalar dan inilah yang merupakan komponen dasar dalam berfilsafat byang
pertama.
Yang kedua, adanya pengalaman hidup (pengalaman yang
sudah dijalani sampai saat ini, walaupun belum banyak namun dapat dikatakan
sudah cukup).
Maka, secara filsafati dikatakan bahwa unsure dasar
dalam berfilsafat adalah rasio dan pengalaman.
Kembali pada asumsi, asumsi juga merupakan tatat
cara. Jadi, kita akan belajar tentang obyek dan metode. Asumsi sebagai obyek
dan tata cara sebagai metodenya. Namun, dalam konteks tertentu, obyek dan
metode dapat berubah posisi. Oleh karena itu, filsafat dapat didefinisikan
sebagai apa saja.
Asumsi dalam
berfilsafat berarti tata cara dalam befilsafat. Tetapi terkadang tata cara
melakukan sesuatu merupakan hal itu sendiri (misalkan beribadah/berwudhu, tata
cara orang berwudhu merupakan ibadah itu sendiri). Dalam Filsafat Pendidikan
Matematika mempelajari tata cara orang berfilsafat dalam lingkup Pendidikan
Matematika di mana kita dituntut untuk berfilsafat pula.
Dlaam berfilsafat, kita kenal pula kata munafik.
Munafik dalam filsafat itu kontradiksi sebagaimana hidup itu sendiri merupakan
kontradiksi karena merupakan kemunafikan itu sendiri. Tetapi, dalam filsafat,
munafik dalam pikiran itu adalah sumber ilmu, tetapi jangan sekali-kali munafik
dalam perbuatan. Hanya saja, permasalahannya, munafik dalam pikiran bercampur
dengan munafik dalam perbuatan. Karena
itu hidup ini sekarang cenderung anarkhis. Tetapi dalam filsafat,anarkhis ini
masih akan dipilah-pilah mana anarkhis yang cenderung membangun atau
benar-benar merusak.
Pada dasarnya, manusia dalam kondisi dasar tetapi
pasrah, pikirannya akan berkembang. Namun, kalau dalam keadaan tertekan,
pikiran akan menyempit. Maka terjadi kontradiksi atau anomali (dalam konteks
social), dan jika dibawa lebih tinggi lagi, namanya Hedonism (hanya berpikir
kesenangan) yang merupakan pengaruh global.
Berfilsafat juga merupakan olah pikir (olah pikir yang refleksif). Maka jika seseorang tidak mau berpikir berarti seseorang tidak mau atau tidak ada hasrat untuk hidup (karena hidup merupakan oleh pikir dalam mencari solusi). Dalam kondisi yang terkungkung oleh engaruh global, kita diminta untuk berpikir refleksif/ berfilsafat sejenak. Karena dengan berpikir refleksif, kita akan dapat memikirkan solusi dari permasalahan (akibat pemikiran yang berkembang).
Berfilsafat juga merupakan olah pikir (olah pikir yang refleksif). Maka jika seseorang tidak mau berpikir berarti seseorang tidak mau atau tidak ada hasrat untuk hidup (karena hidup merupakan oleh pikir dalam mencari solusi). Dalam kondisi yang terkungkung oleh engaruh global, kita diminta untuk berpikir refleksif/ berfilsafat sejenak. Karena dengan berpikir refleksif, kita akan dapat memikirkan solusi dari permasalahan (akibat pemikiran yang berkembang).
Asumsi yang ketiga bahwa filsafat itu hidup. Kalau
dalam matematika, semakin belajar akan semakin jelas, namundalam filsafat,
semakin belajar akan semakin pusing karena pikiran kita berkembang secara
bebas. Kembali pada filsafat itu hidup, sebelumnya kita akan membicarakan hidup
terlebih dahulu. Hidup ini adalah mampu berkata, mampu berpikir, dll. Maka jika
ada seseorang sudah tidak mau berpikir berarti sudah menuju pada kata tidak
hidup .
Di atas filsafat ada spiritual. Maka, doa itu
seharusnya hidup (ada pikiran dan perasaan di sana, tidak hanya di mulut saja).
Oleh karena itu, selama manusia hidup, manusia perlu berdoa. Dalam perkuliahan
ini, tidak ada giving philosophy but let
us a chance to built our own philosophy dengan cara adanya
fasilitas-fasilitas yang sudah diberikan.
Asumsi atau definisi filsafat yang keempat adalah
sifat-sifat hidup yang sehat, salah satunya dengan tidak bertindak munafik.
Dalam kata berusaha hidup, kita akan berusaha menjaga tubuh kita untuk tetap
sehat baik fisik maupun pikiran. Maka menjaga tubuh kita agar tetap sehat
haruslah seimbang. Menjaga pikiran tetap sehat bukanlah hal mudah. Bahkan,
sampai saat ini, dengan kalimat yang panjang, kita belum bisa menjelasakan
tentang arwah, ruh, jiwa. Bahkan belum dapat menjelaskan yang melekat pada diri
sendiri. Misal, cinta. Jangan anggap cinta itu sebuah titik yang akan bisa
ditemukanjika kita sudah tahu koordinatnya.
Asumsi yang kelima, karena filsafat itu hidup maka
asumsi yang selanjutnya adalah metode hidup. Ciri-ciri orang yang hidup adalah
berikhtiar. Barang siapa tidak mau berikhtiar maka mulai tidak hidup termasuk
ilmu pengetahuan dan metode hidup ini tergantung pada pribadi masing-masing.
Ciri yang kedua adalah berinteraksi. Maka konsep
hidup yang baik adalah hidup yang seimbang. Contoh: tumbuhan dan alam semesta.
Tuhan telah menciptakan segalanya sebesar-besarnya untuk kemashlahatan umat
manusia, maka manusia wajib menjaganya dan tidak merusak keseimbangannya.
Tumbuhan misalnya. Tumbuhan hidup secara seimbang (jika tidak dipotong,
dibonsai atau lain-lain). Ibarat lain, jika ada beribu-ribu bom nuklir jatuh di
bumi, maka lama-kelamaan bumi ini akan kembali seimbang.
Setelah berbicara tentang asumsi, kita berbicara
mengenai filsafat yang berasal dari Yunani yaitu Dewa Hermen. Pada saat itu,
dewa-dewa dianggap memiliki kekuatan untuk menangkap pikiran atau
perintah-perintah Tuhan dan akhirnya disampaikan pada penduduk. Maka ada
istilah Hermeneutika yang inti sarinya terjemah dan menterjemahkan. Apapun yang
ada di luar tubuh kita, kita berusaha untuk menterjemahkannya. Begitu pula
dengan orang lain yang berusaha menterjemahkan segala perkataan dan tindakan
kita.
Maka adanya bumi seharusnya dapat menjadi contoh
bagi kita. Belajar untuk menterjemahkan gerakan bumi dimana dia berotasi
sekaligus berevolusi. Kalau kita beraktivitas internal misal berdoa, itu
berarti kita beraktifitas pada diri sendiri, sedangkan pergerakan di luar tubuh
kita misal berwudhu sebelum berdoa disebut berevolusi.
Oleh karena itu, obyek berfilsafat adalah segala
yang ada dan mungki ada dengan cara baca, baca, baca, dan baca. Maka dapat
dikatakan bahwa belajar itu anywhere, anytime and continuously. Jika dinaikkan
tingkatannya maka yang akan kita temukan adalah berdoa. Berdoa pun harus anywhere,
anytime and continue.
Metode berfilsafat adalah hermeneutika dan bahasa
yang digunakan adalah bahasa analog (artinya jika kita berbicara masalah
pikiran, itu adalah filsafat. Jika kita berbicara tentang filsafat pikiran maka
itu manusia. Namun, jika kita ingin berbicara tentang akhirat, tidak akn cukup
hanya dengan pikiran, tetapi harus dengan hati). Oleh karena itu, kalau hanya
menggunakan pikiran, tidaklah cukup untuk menemukan Tuhan (harus lewat hati).
Jika filsafat sudah tinggi, jangan mencoba-coba menggoyahkan keyakinan yang
sudah ada. Oleh karena itu, jika berfilsafat satu langkah, maka berdoalah
sepuluh langkah. Jika berfilsafat dua langkah, maka berdoalah dua puluh
langkah, dst.
Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu di setiap
langkah perbuatanmu dimanapun berada. Jangan coba-coba mengembarakan pikiranmu
jauh di tak terhingga tanpa menyertakan hatimu atau kau tak akan pernah bisa
menemukan jalan keluar.
Pertanyaan:
1.
Filsafat itu bebas bergantung pada pola
pikir individu. Lalu adakah filsafat yang dikatakan sebagai filsafat yang
keliru dan filsafat yang benar?
Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini. Trimakasih.
Bagi yang menginginkan rekaman perkuliahan ini, dapat didownload disini. Trimakasih.
Komentar
Posting Komentar